Minggu, 07 November 2010

Bagaimana Hewan Kurban Yang Sah?

(ditambah dan dikurangi dari tulisan Ustadz Abul Harits Himawan di sini)

Binatang kurban harus berupa hewan ternak: unta, sapi, dan kambing. Sehingga, tidak sah berkurban dengan rusa, kuda, jenis burung, sapi liar atau binatang halal lainnya. Hal itu telah ditunjukkan oleh firman Allah dalam surat Al Hajj:34 (artinya) “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka.”

Harus Berumur

Mengenai umurnya, untuk kambing domba (kambing gembel) minimalnya jadza’ah. Jika berupa kambing kacang (kambing jawa), sapi, atau onta maka minimalnya musinnah. Menurut mayoritas ulama, jadza’ah yang dimaksud adalah umur genap 1 tahun untuk kambing domba, sedangkan musinnah adalah umur genap 2 tahun masuk tahun ketiga untuk kambing kacang serta sapi; atau umur 5 tahun masuk tahun keenam untuk onta. Jika belum terpenuhi syarat umur ini, maka hewan sembelihan tersebut tidak sah.

Catatan Tentang Cacat

Syarat sah hewan kurban yang lain adalah tidak adanya cacat pada hewan tersebut. Sebagiannya disepakati para ulama, sebagiannya lagi masih diperselisihkan. Adapun yang disepakati, di antaranya adalah: rusak matanya dengan kerusakan yang jelas atau memutih; nampak jelas sakitnya, seperti kudis, terjangkiti wabah; kehilangan nafsu makan; cepat lelah dan yang semisalnya; hewan yang pincang dan nampak kepincangannya (dengan patokan, hewan ini selalu tertinggal dari temannya, adapun jika masih bisa berjalan normal bersama temannya maka tidak mengapa); yang sudah terlalu tua, kurus, dan tidak memiliki sumsum. (berdasarkan H.R. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dan dishohihkan oleh An-Nawawi).

Adapun cacat yang diperselisihkan para ulama antara lain; hewan yang buta kedua matanya namun tidak jelas kebutaannya; hewan yang pingsan -hewan ini tidak sah selama masih pingsan karena termasuk yang jelas sakitnya-; kambing yang membesar perutnya dan tidak bisa buang angin -hewan ini termasuk yang jelas sakitnya sebelum dia buang air besar-. Penyakit-penyakit ini -menurut pendapat yang kuat- adalah termasuk dari cacat yang menghalangi keabsahan hewan kurban. Allahu a’lam.

Adapun cacat yang tidak berpengaruh pada keabsahan hewan kurban adalah: hewan yang ompong giginya; hewan yang kering kantong susunya (tidak bisa mengeluarkan air susu); hewan yang tidak berekor baik sejak lahir atau dipotong; hewan yang tidak bertanduk; dan hewan yang dikebiri. Cacat tersebut di atas tidak berpengaruh pada keabsahan karena tidak ada dalil yang melarang. Walaupun ada dalilnya, maka dalilnya dho'if (lemah).

Diperbolehkan pula berkurban dengan yang betina. Rasulullah telah bersabda (artinya), “...tidak apa-apa bagi kalian yang jantan atau betina.” (H.R. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa`i. Dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani). Walaupun sabda Nabi ini berkaitan dengan masalah aqiqah, tetapi mayoritas hukum kurban sama dengan hukum aqiqah. Karena, keduanya sama-sama ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dan ini merupakan kesepakatan para ulama.

Mana Yang Paling Baik?

Urutan binatang kurban yang paling utama adalah kambing domba, kambing jawa, sepertujuh sapi, lalu sepersepuluh atau sepertujuh onta (terdapat silang pendapat di antara para ulama mengenai onta cukup untuk tujuh orang atau sepuluh orang). Adapun jika penuh satu hewan, satu ekor unta lebih baik daripada satu ekor sapi, dan satu ekor sapi lebih bagus daripada satu ekor Hewan jantan lebih utama dari yang betina karena daging yang jantan lebih bagus.

Hal ini didasarkan pada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi menyembelih 2 ekor domba (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Adapun sapi, karena beliau berkurban untuk istri-istri beliau pada Haji Wada’ dengan sapi (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Bagi para jama'ah haji, maka yang utama berkurban dengan onta, sebagaimana Nabi telah berkurban untuk diri beliau sendiri pada haji Wada' 33 onta (H.R. Muslim). Akan tetapi, jika tidak mampu maka dengan sapi atau kambing.

Allahu a'lam.

Catatan:

S: Apa hukum berkurban dengan kerbau?

J: Kerbau termasuk ke dalam jenis sapi, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Muwaffaquddin di dalam Kitabuz Zakat, "Dan kerbau hukumnya seperti yang lainnya dari jenis sapi."

Ibnul Mumdzir mengatakan, "Para ulama yang kami hafal bersepakat tentang hal ini."

Nah, diambi dari sini bahwasanya boleh berkurban dengan kerbau sebagaimana boeh berkurban dengan sapi. Demikian pula hukum-hukum lain pada sapi bisa diaplikasikan pada kerbau. Allahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar